1241

Yang tersisa hanya aku — dengan setitik energi yang kukumpulkan untuk tetap ‘waras’ — dan kalimat yang tak kunjung mencapai titik menari di layarku. Ketik, hapus, ketik, hapus, begitu-begitu saja…

Bahkan air mata pun sudah tak sudi keluar dari mataku. Perasaan menggumpal di dada, sungkan untuk keluar lewat suara yang sudah tak karuan seraknya, terlalu lelah untuk keluar walaupun jika aku lempar bantalan kaos kaki di hadapanku. Lagi-lagi papan ketik ini menjadi korban, menjadi saksi perasaan tidak nyaman pada malam ini.

Mungkin rembulan — apabila ia masih memiliki kebaikan untuk menemaniku secara diam-diam — sedang tertawa kepadaku sekarang. Kenapa aku seterpuruk ini ketika semuanya tercukupi? Begitu banyaknya manusia di sekitarku, kenapa merasa seperti tidak ada orang? Bahkan presensi diriku sendiri saja terkadang terlalu lemah untuk kurasakan.

Silih berganti hal tidak bersalah kerap aku kambing hitamkan. Pertama aku kira aku tumbuh dengan kurang baik sampai terlalu peka terhadap sekecil apapun itu beban di hatiku. Kemudian aku salahkan orang lain yang tidak memberi kehangatan sebesar yang aku berikan ke mereka. Sekarang aku mulai menyalahkan pilihan yang aku buat — kuliah, teman, lingkungan yang begini begini saja — di saat mungkin aku yang tidak dapat beradaptasi dengan baik.

Kenapa aku sulit merasa senang? Apakah memang jatah hidupku semembosankan ini atau memang aku saja yang kurang bersyukur? Hari demi hari tidak ada yang membuatku bersemangat. Jika dianalogikan mungkin hidupku sekarang seperti jam dinding. Tak ada yang melihat kecuali dibutuhkan, setiap hari melakukan aktivitas yang sama, tidak dipertahankan, membosankan, tidak menarik. Kata-kataku terlalu kasar ya, untuk diri sendiri?

Yang membuatku bertahan hanya masa lalu (yang kadang aku romantisasi karena tidak seindah itu) dan masa depan yang kugambar sendiri sesuai keinginanku. Dengan orang-orang yang lebih peduli terhadapku, dengan aku yang lebih peduli terhadapku.

Tak tahu aku mengetik apa. Katanya manusia memang kompleks tapi tidak sedikitpun aku bisa memahami diriku sendiri. Apa itu aneh? Apa orang-orang juga berpikir seperti ini di jam 1 malam?

Entah aku mengetik apa sekarang. Susah payah mengeluarkan rasa ini selama setengah jam — tetap tak bisa menjelaskan bahkan seperempat yang aku rasakan.

--

--

You fill my lungs with sweetness and you fill my head with you — Shall I write it in a letter?

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
:)

:)

You fill my lungs with sweetness and you fill my head with you — Shall I write it in a letter?